Ini pengalaman pertamaku menonton pertunjukan Teather secara langsung. Selasa petang, tepatnya tanggal 23 Mei kemarin pukul 18.30 WIB aku pergi meninggalkan kost munggil untuk menonton pentas show dengan tema alam berjudul Equilibrium dari UKM Teather Senthir Mercu Buana Yogyakarta di Gedung Societet Militair, Taman Budaya Yogyakarta.

Aku gunakanlah surat undangan yang ku dapat dari Buana Pers agar bisa masuk ruang pementasan tanpa harus membeli tiket. Rasa nya semangat sekali untuk menonton karena pengalaman pertama terlebih para pemain teather mayoritas aku mengenalnya. Sesampainya dilokasi pukul 18.57 WIB sudah terlihat ramainya penonton yang datang padahal ruangan baru dibuka pukul 19.30 WIB, sambari menunggu aku gunakan waktu untuk mencoba SKSD (sok kenal sok dekat) dengan penonton lain sembari bertanya-tanya yang ternyata beberapa orang dari mereka juga merupakan pengalaman pertamanya menonton pertunjukan teather secara langsung.

Tiba waktunya memasuki ruangan yang gelap karena lampu sengaja dimatikan terlihat suram-suram warna merah yang tak lain tempat duduk seperti model bioskop bedanya kursi ini tidak ada huruf atau nomor seperti umumnya bioskop, aku memilih duduk disisi kanan kursi baris ke tiga dari depan panggung, nomor 5 paling ujung dekat dengan akses jalan, tepatnya pukul 20.00 WIB pementasan teather dengan Equilibrium dimulai.

Di menit awal menonton aku mulai banyak menduga duga pesan apa yang ingin disampaikan kawan Senthir dalam teather ini, tapi ada hal menarik yang aku temui saat menonton Equilibrium. Seseorang penonton laki-laki berkacamata duduk dikursi baris kedua dari depan panggung, nomor ketiga dari akses jalan ia sungguh menikmati dan menghayati Teather ini. Seringkali lelaki itu mencopot kacamatanya dan mengusap air matanya yang ikut jatuh terbawa suasana pentas. Dari awal hingga akhir kekhusyukannya dalam menonton teather tidaklah goyah. Justru akulah yang sering goyah,  tidak ada kekhusyukan dalam menikmati teather ini karena sering berpindah fokus melihat lelaki itu hingga aku menduga lelaki itu juga merupakan aktor. Ah sial ternyata ia aktor di kehidupannya bukan di teather ini.

Adalagi yang membuatku hilang kekhusyukan, group backsound yang ditaruh dibagian atas panggung, atasnya lagi. Grup backsound itu berjumlah enam orang denagn lima lelaki dan satu wanita, merekalah yang bertugas mengiringi pentas agar suasana semakin Gerrr. Rasanya merekalah yang tampil full dari awal hingga akhir dipementasan melebihi para aktornya yang silih berganti. Ada hastanta selaku pohon tua, keyshila istri dari hastanta selaku air, hartadi anak dari hastanta dan keyshila selaku kekayaan alam, praba selaku matahari, dan madani selaku manusia. Mereka inilah para aktor yang memukau penonton terlebih lelaki berkacamata kursi baris kedua itu meskipun ini juga pengalaman pertama mereka dalam pementasan teather tapi mereka sudah pandai memainkan peran dan karakter. Tabik

Penampilan teather Equilibrium berjalan selama 2 jam dari pukul 20.00 – 22.00 WIB, selama itu pula teater tersebut di tonton oleh 208 orang didalam ruangan. Seakan tak ingin salah dalam menangkap pesan dari teather ini karena kurangnya kekhusyukan maka aku mencoba bertanya langsung pada sutradara namanya Kurnia Ramadhani yang akrab disapa Nia, cantik wajahnya bulat putih berkacamata ia sudah pernah jadi sutradara sebelumnya. Menurut Nia dari pembuatan naskah sampai pementasan ini memakan waktu sekitar 3 bulan mengingat dari lima aktor yang bermain hanya satu keyshila yang sudah mempunyai jam terbang, empat sisanya masih pengalaman pertama dalam penampilan teather dibutuhkan proses Latihan yang agak lebih Panjang. Dan terbayarlah sudah proses Panjang nan melelahkan itu dengan penampilan yang hebat mereka.

Equilibrium yang artinya keseimbangan ini berangkat dari keresahan masing-masing anggota Senthir yang melihat fenomena-fenomena sekarang ini seperti kita manusia kadang-kadang kita menjadi manusia yang serakah seolah-olah apa yang diberikan tidak cukup untuk kita, jadinya alam marah, bencana terjadi dimana-mana seperti banjir, tsunami, gempa, dan bencana-bencana itu terjadi karena ulah manusia yang tidak merawat alam. Jadi kenapa equilibrium ini ada karena melihat keresahan-keresahan yang ada dilingkungan sekitar kita dan tujuannya kita ingin tetap berdampingin dengan alam tetapi juga ingin membuat peradaban yang kita impikan, jadi perlunya menyeimbangkan antara alam dengan peradaban yang kita impikan itu, pungkas Nia.

Pikiranku pun terbang jauh mengingat bagaimana keadaan di Wadas Purworejo, PPLP-Kulon Progo, nan jauh lagi di Kalimantan sana dengan sesaknya batubara dan sawit. Terasa muak akupun ingat tentang konsep Eco-Fascism alam untuk alam seperti hutan lindung ekosistem tumbuh dan saling terbuhung secara alami tanpa campur tangan manusia, Eco-Polulism alam untuk manusia yang artinya alam dan manusia hidup berdampingan manusia bisa memanfaatkan apa yang ada di alam untuk peradaban dengan sewajarnya tanpa merusak alam dan yang terakhir Eco-Developmentalism alam untuk pembangunan alam dieksploitasi oleh manusia demi keberlangsungan pertumbuhan ekonomi dan pemupukan modal. Praktiknya manusia telah lama mengeruk mengekspoitasi alam semena-semana tanpa mengindahkan keselarasan hingga menimbulkan bencana dimana-mana, maka manusia harus sadar akan pentingnya menjaga, merawat keseimbangan dengan alam dan bisa jadi itu pengalaman pertama kita.

Penulis                 : Ridwan Maulana
Editor                   : Alan Dwi Arianto
Dokumentasi       : Ridwan Maulana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *