December 6, 2022

Title: Tuhan Maha Asyik

Author: Sujiwo Tedjo dan D.R M. Nur Samad Kamba

Publisher: Imania

Published: 2016

Pages: 245

ISBN: 978-602-7926-29-5

Ayat 2 [ Drama dalam dongeng ]

Ada seorang kawan yang bertanya kepada saya “apakah doktrin agama itu sangat menakutkan, hingga kita akan dimasukan ke Neraka jika tak menyembah kepadanya?”

Pertanyaan yang sangat menarik, mari kita bedah dari apa yang disampaikan lewat buku ini. Penulis berkata surga bisa menjadi siksaan manakala dilihat sekadar pemuasan hasrat-hasrat diri. Neraka bisa menjadi nikmat jika dimengerti fungsinya sebagai proses refine atau pemurnian kembali.

Saat Tuhan menempatkan dirinya di Neraka, malah yang terlihat olehnya adalah kenikmatan abadi. Bukankah segala derita dan sengsara adalah hakikat dari cinta?

Jadi pertanyaan tersendiri buat saya, jikalau ternyata Neraka adalah tempat untuk pemurnian kembali, lalu untuk apa dogma-dogma menakutkan yang sering saya dengar di ceramah-ceramah itu? Bukankah terksesan seperti sebuah teror yang mencekam. Dimana letak keikhalasan beribadahnya.

Dalam bukunya penulis menampilkan percakapan anak kecil, dimana Christine mengatakan bahwa manusia yang berbuat jahat tidak diceritakan akibat pengaruh setan, nanti tukang gambar komik enggak bisa menggambar setan. Masa mereka menggambar proses-proses hormonal dalam tubuh manusia yang secara kimiawi mendorong raga untuk berbuat jahat? Nanti dikira pelajaran biologi. Jadi tidak menarik.

Mungkin hakikatnya Tuhan dan manusia memang menyukai drama, menyukai dongeng untuk keberlangsungan hidupnya, harus selalu ada dramatisasi, seperti kisah cinta remaja saja heuheu. Jadi apakah saat manusia melakukan kejahatan itu murni karena godaan setan atau karena memang ada proses kimiawi dalam tubuh yang menyuruh kita untuk berbuat demikian, tapi bukankah ilmu biologi dan psikologi telah menjawabnya, bahwa ada proses kimiawi dalam tubuh untuk melakukan itu?

Pernah dengar Bahwa manusia itu selalu mengalami illusion pattern?  Merupakan pola ilusi keadaan dimana manusia suka menyederhanakan segala sesuatu, contohnya dengan dongeng atau drama tadi. Jangan-jangan dramatisasi penciptaan Adam dan pembangkangan iblis merupakan visualisasi tarik-menarik yang terjadi dalam diri manusia. Yang satunya mengajak ke arah Tuhan yang lainnya menjauh dari-Nya.

Setiap orang dapat menyadari sendiri bahwa dalam jiwanya selalu ada setidaknya tiga kecenderungan perilaku: kecenderungan baik, kecenderungan jahat dan kecenderungan memenuhi kebutuhan biologis.

Maka yang paling penting dari kisah-kisah dramatis yang pernah kita dengar, kita harus tahu anti-cerita dari kisah tersebut, jadi saat kita berbuat jahat, itu bukan semata-mata karena godaan setan melainkan manusia memang memiliki kecenderungan jahat. Maka manusia harus belajar untuk rem kecenderungan jahat tersebut. Begitu pula saat manusia diiming-imingi surga ketika berlaku baik saat di dunia, maka pelajaran paling pentingnya ialah manusia harus senantiasa berbuat kebaikan menebar cinta untuk seluruh alam semesta beserta isinya, bukan hanya karena surga semata.

Pada bab ini Penulis mengajak kita untuk kontemplasi diri atas apa yang kita lakukan atas nama agama, mempertanyakan untuk apa manusia beribadah jika hanya karena surga, lalu jika tak diberi surga, apa manusia akan tetap menebar kebaikan dan cinta?

Mari mengenal Tuhan dengan cara yang asyik heuheu.

Penulis: Rizky Fajar N.A

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *