December 6, 2022

Judul Buku : FILOSOFI TERAS: Filsafat Yunani-Romawi Kuno untuk Mental Tangguh Masa Kini

Penulis : Henry Manampiring

Penerbit: Penerbit Buku Kompas

Tahun Terbit: Cetakan kelimabelas, Juni 2020

Jumlah Halaman: 344 hlm

“…pada dasarnya semua emosi dipicu oleh penilaian, opini, persepsi kita. Keduanya saling terkait, dan jika ada emosi negatif, sumbernya ya nalar/rasio kita sendiri.”

Ketika mendengar atau melihat buku filsafat/filosofi seolah-olah kita tidak mau membacanya atau bahkan memegangnya. Hal tersebut dikarenakan streotype yang meracuni masyarakat luas bahwa buku filsafat/filosofi memiliki alur dan tata bahasa yang ruwet dan  membingungkan.

Buku Filosofi Teras, dari segi bahasa terbilang cukup mudah dipahami terutama karena mengunakan bahasa sehari-hari yang sering digunakan oleh generasi milenial. Levina Lesmana, sang ilustrator pun tidak ketinggalan. Tampilan isi buku tampak lebih elegan sehingga pembaca tidak mudah bosan.

Buku Filosofi Teras ini terdiri dari 12 bab dengan tema yang berbeda, walaupun terdapat beberapa kesamaan substansi di setiap babnya. Selain itu, penulis menyertakan berbagai data dan tanggapan dari pakar guna meyakinkan manfaat pengaplikasian Filosofi Teras atau Filosofi Stoisisme kepada pembaca. Pada akhir bab, penulis menyertakan rangkuman atau kesimpulan dari setiap pembahasan sehingga memudahkan pembaca untuk mengingat kajian dalam buku ini.

Subtansi dari buku ini adalah mengacu kepada Filsafat Stoisisme, yaitu suatu pandangan yang mengedepankan cara membentuk kepribadian yang baik dan benar serta kuat. Penulis juga mengambil referensi dari berbagai tokoh stoisisme antara lain Marcus Aurelius, Seneca, Epictetus dll.

Pada hakikatnya, manusia merupakan makhluk yang tidak akan pernah puas dalam hidupnya. Manusia sering kali bertindak mengikuti hawa nafsu untuk mencapai keinginannya. Dampak dari tidak tercapainya suatu keinginan adalah stres dan frustasi yang dibarengi oleh emosi negatif dan melahirkan prasangka-prasangka buruk kepada orang lain.

Filosofi Teras mengajak kita untuk selalu berbuat baik kepada orang lain, apapun keadaannya. Menerapkan prinsip Epictetus “somethings are up to us, some things are not up to us”. Stoisisme mengajarkan bahwa kebahagiaan datang dari hal-hal yang bisa dikontrol, yaitu hal-hal yang ada di bawah kendali kita. Kita tidak dapat menggantungkan kebahagiaan pada orang lain maupun hal-hal di luar kendali kita.

Jika kita dapat menerapkan Stoisisme atau menjadi seorang Stoic, kedamaian dan ketenangan hati bukanlah hal yang mustahil untuk dicapai meskipun hidup dalam ketidakpastian. Rasa cemas dan takut akan lebih mudah teratasi.

Pada halaman 284-286 di buku Filosofi Teras, penulis merangkum pembahasan utama dalam buku tersebut dalam 17 konsep, antara lain:

  1. Hidup selaras dengan alam, artinya kita harus menggunakan nalar.
  2. Tujuan Filosofi Teras adalah hidup dalam ketenangan dan bebas dari emosi negatif.
  3. Empat kebajikan utama (virtues): Kebijaksanaan, Keadilan, Menahan diri, Keberanian.
  4. Dikotomi kendali, sebagian hal yang ada dibawah kendali kita. Tidak menggantungkan kebahagiaan pada hal-hal yang tidak di bawah kendali kita. Wiliam Irvine menawarkan Trikotomi Kendali sebagai revisi.
  5. Indifferent, hal-hal yang tidak berpengaruh pada kebahagiaan. Terdiri dari preferred indifferent, seperti kesehatan, kecantikan, kekayaan, dan unpreferrend indifferent, seperti sakit karena penyakit dan kemiskinan. Kedua kategori ini tidak relevan dalam mencapai tujuan hidup yang baik.
  6. Dikotomi kendali tidak sama dengan pasrah pada keadaan.
  7. Semua kesusahan yang dirasakan datang dari pikiran sendiri dan bukan dari peristiwa/orang lain.
  8. Bedakan antara peristiwa objektit/fakta dan opini/value judgment yang sering menjadi akar dari emosi negatif.
  9. STAR (Stop-Think & Assess-Respond), selalu lakukan ini saat emosi negatif mulai menerpa.
  10. Premeditatio malorum, melatih diri membayangkan hal-hal buruk yang akan terjadi dalam hidup sehingga bisa lebih siap
  11. Hanya kita yang bisa mengizinkan orang lain menyakiti kita secara non-fisik (misalnya dengan hinaan, celaan, cemoohan. Tidak ada penghinaan yang benar-benar terjadi jika tidak ada yang merasa terhina.
  12. Banyak orang tidak bermaksud jahat, tetapi mereka tidak mengerti/tahu (ignorant).
  13. Instruct and endure, tugas kita kepada sesama manusia adalah mengajarkan untuk menjadi lebih baik.
  14. Setiap musibah dan kesusahan adalah kesempatan untuk melatih karakter dan mengembangkan kebajikan (virtue).
  15. Latihan menderita (pracitic poverty) secara berkala.
  16. Citizen of The World, kita semua adalah warga kosmos/dunia yang sama. Jangan mendiskriminasi.
  17. Kematian adalah bagian dari alam, tidak ada yang perlu ditakutkan.

Buku Filosofi Teras selain merupakan bacaan yang menarik, juga bisa digunakan sebagai pedoman untuk menghadapi permasalahan di kehidupan sehari-hari yang dapat menjadikan manusia tidak hanya sekedar bisa bersikap positif, tapi juga merasa lebih bahagia.

Jika penasaran setelah membaca review buku Filosofi Teras, alangkah baiknya jika kalian membacanya juga, karena dengan membaca buku tersebut, kalian akan menemukan kajian-kajian yang lebih komprehensif dan utuh. Selamat Membaca…

“Seneca berkata bahwa kita tidak boleh sampai berlarut-larut didalam kesedihan itu (bahkan sampai dibawa mati).”

Penulis:

  • Khoirul Atfifudin
  • Icha Suyuti

Editor:

Cici Jusnia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *